Ini Ia Souvenir Nepal yang Awam Dibawa Pulang Pendaki Everest

Ini Ia Souvenir Nepal yang Awam Dibawa Pulang Pendaki Everest
Senantiasa ada souvenir yang dibawa seusai pendaki mengelarkan perjalanannya menempuh berjenis-jenis spot puncak di pegunungan Himalaya. Seperti yang dibawa Regu The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan Bandung (WISSEMU), Fransiska Dimitri Inkiriwang (24 tahun) dan Mathilda Dwi Lestari (24), seusai menempuh puncak Gunung Everest—gunung tertinggi di Pegunungan Himalaya.

Dua mahasiswi yang diklaim menjadi perempuan pertama yang mengatasi tujuh puncak tertinggi dunia itu tidak hanya membawa cerita perjalanan, tetapi juga oleh-oleh untuk kerabatnya. “Kami mampir dahulu di Thamel, Kathmandu, Nepal, untuk rehat dan belanja buah tangan,” kata Fransiska dikala berkunjung ke kantor Tempo di Jalan Palmerah Barat 8, Jakarta Selatan, pada Kamis, 7 Mei.

Baca juga: souvenir jam dinding

Fransiska dan Mathilda melakoni perjalanan menempuh puncak tertinggi dunia di Everest selama 30 hari. Setibanya di kota, mereka mangaku kalap belanja pernak-pernik. Berdasarkan Mathilda, benda yang paling wajib dibawa untuk oleh-oleh yaitu kukri.

Kukri ialah pisau tradisional Nepal. Mata pisaunya berbentuk melengkung. Senjata tajam ini umumnya diaplikasikan untuk alat pemotong apa malah di sana. Kecuali itu, masyarakat Nepal mengidentikkannya dengan senjata khas Resimen Gurkha atau angkatan perang. Berdasarkan pengamatan Mathilda dan Fransiska, kukri dibanderol mulai Rp 200 ribu hingga RP 1 juta. “Kami membelinya dan dapat kami bawa hingga Indonesia. Lolos di bandar udara,” kata Fransiska.

Kecuali kukri, benda yang harus dibeli berdasarkan keduanya yaitu patung-patung Buddha khas Kathmandu. Kathmandu familiar sebagai kota dengan patung Buddha terbanyak di dunia. Patung itu sudah lekat dengan identitas kawasan mereka sebagai ibu kota sekalian kota terbesar di Nepal. “Jikalau patung Buddha, kami beli seharga RP 300 ribuan,” ujar Mathilda.

Oleh-oleh lain yang tidak keok menarik dan menjadi incaran para penyuka kesibukan petualangan yaitu peralatan-peralatan luar ruangan atau outdoor. “Di sana banyak banget warung outdoor, mulai yang brand premium hingga KW,” ujar Fransiska. Keduanya menjumpai gerai-gerai outdoor merek ternama, seperti The North Face, Red Fox, Columbia, Karriomor, dan lain-lain. Hal yang membikin mereka tidak bendung untuk belanja yaitu harga. Harga yang dibanderol jauh lebih murah ketimbang harga di Indonesia.

Artikel lainnya : Souvenir mug murah

“Sepatu The North Face di Indonesia dapat RP 2,5 juta, padahal di sana aku beli Rp 1 jutaan,” tutur Fransiska. Di Kathmandu malah tersedia berjenis-jenis warung yang menjajakan peralatan outdoor bekas atau second hand. Umumnya pendaki yang tidak mau membawa perlengkapannya pulang akan memasarkannya di warung-warung hal yang demikian. Harganya jauh lebih murah, adalah berkisar 50 persen lebih murah ketimbang harga barang baru. “Kami juga membeli kaus-kaus Nepal seharga Rp 50 ribuan untuk keluarga atau sahabat-sahabat,” tutur Mathilda. Souvenir hal yang demikian bisa ditemui di semua sisi Thamel di Kota Kathmandu.